JAKARTA, HARIANPOS.ID – Di tengah krisis global, perubahan iklim, dan ketegangan geopolitik sekarang ini, dimana krisis kemanusiaan di Gaza yang masih berlangsung, perang Rusia dan Ukraina yang juga belum berakhir, terbaru sekarang perang antara India dan Pakistan. Dalam situasi seperti itu, maka ketahanan pangan menjadi isu strategis yang semakin mendesak. Indonesia sebagai negara agraris tentu tidak boleh abai terhadap fondasi utama kedaulatannya yaitu kemampuan menyediakan pangan yang cukup, aman, dan berkelanjutan bagi seluruh rakyat. Untuk mewujudkannya maka dibutuhkan kepemimpinan yang kuat baik dilevel nasional dan daerah. Di sinilah pentingnya kepemimpinan daerah yang visioner dan berpihak kepada rakyat kecil. Salah satu tokoh yang menonjol dalam hal ini adalah Bursah Zarnubi, Bupati Lahat, Sumatera Selatan, yang sebelumnya lebih dikenal sebagai aktivis nasional.
Sebagai tokoh nasional yang memiliki jejak rekam panjang dalam dunia aktivis, Bursah Zarnubi sudah dikenal luas publik tanah air. Berbekal pengalaman panjang dalam berorganisasi dan dengan jejaring pertemanan luas di nasional, Bursah Zarnubi menunjukkan bahwa kepemimpinan bukan sekadar seremonial, tapi soal keberpihakan dan keberanian mengambil keputusan strategis. Dan baru beberapa bulan memimpin Kabupaten Lahat, Bursah Zarnubi langsung gaspol melakukan langkah terobosan dengan melakukan efisiensi dan realokasi anggaran dari belanja tidak produktif ke sektor pertanian, peternakan, perikanan, dan penguatan UMKM.

Langkah nyata efisiensi dan realokasi anggaran yang dilakukannya adalah, dengan merealokasi 313 Milyar anggaran belanja daerah untuk membangun bendungan di Kikim Selatan. Pada 24 April 2025, Bursah Zarnubi, bersama Wakil Bupati Widia Ningsih dan dan disaksikan langsung oleh Wakil Kepala Kantor Staf Presiden (KSP) Mohammad Qodari, melaksanakan ground breaking pembangunan Bendungan Irigasi Air Lingsing di Desa Pagar Jati, Kecamatan Kikim Selatan. Proyek ini bertujuan untuk meningkatkan ketahanan pangan dan mendukung swasembada beras di Kabupaten Lahat. Bendungan ini dirancang untuk mengairi lebih dari 1.200 hektar sawah di Kikim Selatan dan Pseksu, menggantikan sistem irigasi lama yang rusak akibat banjir pada 2024. Bursah Zarnubi menegaskan bahwa pembangunan irigasi harus diawasi ketat agar sesuai dengan Rencana Anggaran Biaya (RAB) dan tidak cepat rusak. yang diharapkan dapat menjadi penopang irigasi persawahan disekitar area tersebut. Langkah ini tidak populer di banyak daerah, tapi menjadi krusial dalam membangun fondasi ketahanan pangan yang kuat dari bawah.
Visi Bursah Zarnubi membangun desa dan menata kota dimana prioritas utamanya menguatkan insfrastruktur pertanian di desa, sejalan dengan agenda besar nasional yang termuat dalam Asta Cita delapan program prioritas yang diusung oleh Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Secara khusus, Asta Cita ke-6 berbunyi: “Membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan.” Dalam hal ini, Bursah menjadi representasi nyata dari cita-cita tersebut, dengan menempatkan desa sebagai episentrum pembangunan.
Bagi Bursah Zarnubi, desa bukan hanya tempat tinggal masyarakat agraris, tetapi juga pusat produksi pangan dan ekonomi lokal. Ia percaya bahwa ketahanan pangan nasional tidak bisa dibangun di atas ketergantungan impor dan monopoli pangan industri, melainkan dari kemandirian desa dan kesejahteraan petani. Oleh karena itu, memperkuat infrastruktur pertanian, mempermudah akses modal bagi petani, dan memperluas pasar produk lokal menjadi program unggulan di bawah kepemimpinannya.
Semangat membangun desa dan menata kota yang dibawanya juga mengubah paradigma kebijakan lokal. Ketika banyak kepala daerah yang masih sibuk dengan proyek-proyek yang berorientasi citra, Bursah Zarnubi memilih jalur yang lebih sunyi namun berdampak: memperkuat fondasi ekonomi desa, diantaranya membangun bendungan irigasi untuk irigasi sawah, memperkuat insfrastruktur budidaya perikanan dan peternakan, juga memperkuat sektor perkebunan kopi, dimana kabupaten lahat adalah salah satu kabupaten penyumbang terbesar bagi Sumatera Selatan. Ia sadar, keberhasilan membangun ketahanan pangan bukan diukur dari seremoni atau statistik semata, melainkan dari kestabilan harga pangan, kesejahteraan petani, dan daya tahan desa terhadap krisis.
Meskipun baru beberapa bulan saja memimpin Kabupaaten Lahat, namun pengakuan terhadap kinerja Bursah Zarnubi datang dari banyak kalangan, tidak hanya dari masyarakat lokal, tetapi juga dari pejabat pemerintah pusat, para tokoh intelektual dan akademisi juga para aktivis nasional. Banyak pihak menilai bahwa gaya kepemimpinan Bursah Zarnubi mencerminkan semangat perubahan ala Presiden Prabowo Subiyanto yaitu tegas, berpihak, dan berorientasi pada hasil.
Dalam banyak kesempatan, Bursah Zarnubi menyampaikan bahwa keberpihakannya terhadap petani dan desa adalah bagian dari panggilan sejarah: mengangkat kembali martabat rakyat kecil sebagai tulang punggung bangsa. Bursah Zarnubi menegaskan, bahwa ketahanan pangan bukan hanya soal perut, tapi juga soal kedaulatan negara. Sebuah bangsa tidak akan besar jika petaninya miskin dan desanya tertinggal. Dalam konteks inilah, apa yang dilakukan oleh Bursah Zarnubi harus menjadi inspirasi bagi kepala daerah lain di Indonesia. Ketika desa diberdayakan, maka bangsa ini akan lebih kuat, berdaulat, dan siap menghadapi berbagai tantangan global.
Dari Bumi Seganti Setungguan , kini harapan itu muncul. Membangun desa dan menata kota bukan hanya sebagai slogan, tetapi sebagai gerakan nyata. Dan Bursah Zarnubi telah menyalakan obor itu—obor yang menyinari jalan menuju kedaulatan pangan dari desa untuk Indonesia. Salam membangun desa menata kota, ***











