WAKATOBI, HARIANPOS.ID – Desa Liya Togo, Kecamatan Wangi-wangi selatan, Kabupaten Wakatobi, terus menunjukkan komitmennya dalam mengembangkan sektor pariwisata berbasis budaya dan alam. Desa yang pernah masuk dalam jajaran 50 besar desa wisata tingkat nasional ini kembali mendapat dukungan penguatan sumber daya manusia melalui pelatihan Bahasa Inggris yang diselenggarakan oleh Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) Universitas Hasanuddin.
Pelatihan bertajuk LITERA (Liya English for Tourism Education and Responsible Action) tersebut dibuka pada 15 Januari 2025 di Baruga Keraton Liya dan diikuti oleh pelajar, pemuda desa, serta perwakilan masyarakat setempat. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kemampuan komunikasi masyarakat dalam menghadapi wisatawan domestik maupun mancanegara, seiring meningkatnya daya tarik Desa Liya Togo sebagai destinasi wisata budaya di Wakatobi.
Sebagai desa yang memiliki kekayaan sejarah, adat istiadat, serta lanskap alam yang khas, Desa Liya Togo membutuhkan kesiapan masyarakat, terutama dalam hal komunikasi. Oleh karena itu, materi pelatihan difokuskan pada Bahasa Inggris praktis untuk keperluan pariwisata, seperti percakapan dasar, perkenalan diri, penyampaian informasi mengenai potensi dan sejarah desa, hingga simulasi komunikasi langsung dengan wisatawan asing.
Proses pembelajaran dikemas secara interaktif melalui diskusi, permainan edukatif, dan praktik langsung agar peserta lebih mudah memahami materi serta meningkatkan kepercayaan diri. Antusiasme peserta terlihat dari keaktifan mereka selama sesi berlangsung, khususnya saat praktik percakapan.
Muhammad Vispari, Mahasiswa Sastra Inggris Selaku Koordinator Kabupaten Wakatobi KKNT Unhas 115, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk kontribusi nyata mahasiswa dalam mendukung pengembangan desa wisata.
“Desa Liya Togo memiliki potensi besar dan telah diakui secara nasional. Jangan sampai Potensi ini disia-siakan, Melalui pelatihan ini, kami ingin membantu masyarakat agar lebih siap menyambut wisatawan dan mampu mempromosikan potensi lokal dengan baik,” ujarnya.
Warga Desa Liya Togo menyambut baik pelaksanaan kegiatan tersebut. Ibu Mursida, Ketua Community Based Tourism Kelompok Pengelola Wisata Liya (CBT KEPOOLI), menilai kehadiran mahasiswa KKN memberikan dampak positif dalam penguatan kapasitas masyarakat. Ia menegaskan bahwa pengembangan desa wisata membutuhkan sinergi antara mahasiswa, pemerintah desa, dan masyarakat Khususnya Pemuda.
“Perilaku sadar wisata perlu dibangun pada Pemuda yang nantinya akan berkontribusi membangun desa. Dengan pelatihan ini, Kami berharap Ilmu yang didapatkan akan sangat bermanfaat dalam Pengembangan sektor Pariwisata Desa Kedepannya,” katanya.
Laporan : Gan













