WAKATOBI, HARIANPOS.ID – Masyarakat pulau binongko Kabupaten Wakatobi menggelar ritual pembukaan lokasi pembesaran gurita pada hari rabu (1/1/2025).
Ritual yang dipelopori Forum Nelayan Binongko (FONEB) dilaksanakan di Pantai Kampa-Kampa Desa Kampo-Kampo Kecamatan Binongko itu dilakukan setelah masyarakat melakukan temporary closure (TC) atau penutupan sementara terhadap lokasi pencarian gurita sejak 30 September 2024 sampai 1 Januari 2025.
Dimana, sejak diberlakukannya penutupan sementara, pemerintah desa bersama tokoh adat, tokoh agama, tokoh masyarakat serta para nelayan gurita secara bersama-sama melakukan pengelolaan pada wilayah penutupan dengan melakukan pengawasan secara berkala agar tidak ada yang melakukan aktifitas tangkap di wilayah tersebut.
Kemudian, dalam hal pengawasan, pemerintah Desa Kampo – Kampo melalui musyawarah bersama antar tokoh masyarakat membentuk kelompok Local Marine Managemen Area (LMMA) Mbele-Mbele sebagai bentuk dari partisipasi nelayan lokal dalam mengelola sumber daya yang dimilikinya.
Koordinator Program FONEB, La Ode Muh. Safie mengatakan, kegiatan tutup sementara selama tiga bulan dilakukan dalam rangka mendukung Program Pengelolaan Perikanan Skala Kecil Berbasis Masyarakat.
Dimana selama tiga bulan, masyarakat ataupun nelayan tidak melakukan aktifitas tangkap di wilayah penutupan sementara guna proses tumbuh dan kembang biak gurita. Hingga cukup tiga bulan terang Safie, warga baru boleh melakukan aktifitas tangkap dengan terlebih dahulu dilakukan ritual setempat.
“Kita ada standar, nelayan harus menggunakan alat tangkap ramah lingkungan dan besaran gurita yang boleh ditangkap oleh nelayan gurita adalah dengan bobot besaran sekitar 0,5 kg,” terangnya.
Sementara itu, Selfian selaku Pengepul Gurita di Desa Kampo-Kampo mencatat bobot tangkapan terberat perekor pada hari ritual Pembukaan Lokasi Pembesaran Gurita didapatkan oleh dua nelayan Bernama La Moni dan Wa Dewi dengan berat 2 kg atau setara dengan besaran Rp 90.000, untuk harga lokal di pulau Binongko.


Lanjut Selfian, Adapun total tangkapan nelayan gurita saat pembukaan lokasi tutupan sementara adalah sekitar 200 kg dengan total rupiah sekitar Rp 4.500.000,.
“Ini hampir setara dengan tangkapan satu bulan selama penangkapan yang tercatat di pengepul,” ucapnya.
Seorang nelayan setempat, La Moni menuturkan jika dirinya cukup bahagia karena memperoleh hasil tangkapan terberat dari sekian banyak nelayan yang ikut menangkap. Ia mengaku bahwa hasil tangkapannya pada hari ini cukup bagus dan berharap kegiatan ini tetap berlanjut.

Untuk diketahui, Ritual pembukaan dipimpin oleh Imam Masjid Nurul Jihad yang diikuti oleh para tokoh agama, tokoh adat, tokoh masyarakat, nelayan gurita, dan pemerintah desa serta para undangan yang hadir. Turut hadir pula perwakilan Balai Taman Nasional Wakatobi, Camat Binongko, Kepala UPTD Perikanan Binongko, Danramil 1413 Binongko, serta partisipan lainnya. Setelah pembacaan ritual, para nelayan gurita secara serempak melakukan penangkapan. Adapun luasan area tutupan adalah 28 Ha yang membentang dari perbatasan Desa Kampo-Kampo Lagongga sampai pantai Desa Kampo-Kampo.
Program Pengelolaan Perikanan Skala Kecil Berbasis Masyarakat di Pulau Binongko ini didukung oleh Blue Ventures Indonesia (BVI) di Denpasar Bali. BVI dalam hal mendukung program perikanan skala kecil di Pulau Binongko bermitra dengan FONEB untuk Desa Kampo – Kampo dan Desa Lagongga.
Laporan : Gan













